Monday, September 29, 2008

MUDIK DAN LEBARAN

Hari Rabu besok pada tanggal 1 Oktober 2008, umat muslim akan menuai hasil ikhtiarnya dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan yaitu berupa hari kemenangan, hari kembali fitrah, suci seperti bayi yang baru dilahirkan..Hari Lebaran. Ya hari lebaran, dimana seluruh kepasrahan dalam menjalankan puasa sebulan penuh itu bermuara.

Minal aidin wal fa’idzin..Mohon maaf lahir dan batin buat semua rekans yang merayakannya..Selamat meraih kemenangan hati dan pikiran. Selamat menjadi manusia baru kembali. Semoga Ramadhan yang akan terlewati memberi kesempurnaan dalam menjalankan hidup sehari-hari. Aminn!!

Ibadah puasa yang dijalankan sebulan penuh itu adalah bentuk solidaritas dan kepedulian umat muslim terhadap sesamanya yang papa, tidak berpunya. Mereka yang sehari-harinya sampai-sampai tidak tahu harus makan apa. Mereka hanya mampu bertanya nanar: ”Hari ini apa yang bisa kita makan?” Berbeda dengan kebanyakan kita yang senantiasa bisa bertanya kepada orangtua atau orang terkasih: ”Hari ini kita makan dengan lauk apa?” Kita yang masih punya banyak pilihan memberikan bentuk kepedulian dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan, makan dan minum yang dibatasi dan terbatas. Hikmahnya adalah kita menjadi lebih peka dan peduli dengan kemanusiaan kita, dengan manusia-manusia di sekitar kita. .Selain itu, kita menjadi manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsu kita, bukan menjadi manusia yang kebalikannya; manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu..

Menjelang hari kemenangan pun, umat muslim yang hidup dan mampu – dari mulai orang tua sampai dengan bayi yang baru lahir sampai dengan malam takbiran – tak terkecuali wajib mengeluarkan zakat fitrah nya. Bayi, anak-anak dan orangtua kita menjadi kewajiban bagi kita yang mampu untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi mereka. Makna dibalik kewajiban zakat fitrah adalah juga mengasah kepedulian dan kepekaan kita untuk senantiasa berbagi dengan sesama apa yang kita punya. Jika pada hari kemenangan kita bisa bersukacita menyambutnya dengan baju dan benda-benda yang serba baru maka belum tentu sebagian yang lain bisa merayakan hari lebaran dengan hal yang sama. Itulah seharusnya yang wajib kita maknai dibalik puasa Ramadhan dan perayaan hari lebaran.

Fenomena unik di Indonesia (walaupun hanya akrab di sebagian kota di Indonesia) dalam perayaan hari Lebaran adalah mudik ke kampung halaman. Seperti makna Lebaran secara harafiah yang berarti kembali ke fitrah atau kembali menjadi suci maka bagi para pemudik, makna tersebut sama dengan kembali kepada asal mereka. Kembali ke kampung halaman. Mungkin itulah asal muasal mudik:-) Secara keseluruhan para pemudik pasti ingin merayakan hari kemenangan di kampung halaman, tempat asal mereka. Itu juga yang mendasari kekuatan dan keteguhan hati mereka untuk tetap mudik – melakukan perjalanan panjang – ke kampung halaman, apapun kendala yang dihadapi.

Rekans, apapun itu, kita bisa memaknai hari kemenangan yang segera tiba dengan kembali ke fitrah. Intinya, hari Lebaran sebagai bentuk perayaan hati setelah sebulan penuh berpuasa menahan hawa nafsu hendaknya mampu menjadikan kita manusia-manusia baru yang dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan fitrahnya. Ya, kita harus selalu ingat bahwa kodrat manusia pada awalnya adalah suci, tidak berdosa dan durhaka kepada Tuhannya maka tempatkanlah diri kita sesuai dengan kodratnya. Selamat berlebaran bagi umat muslim, Minal aidin wal fa’idzin..

No comments:

Post a Comment